Mendapatkan predikat haji yang mabrur (diterima oleh Allah) tentu menjadi tujuan utama. Berdasarkan penjelasan Nabi Muhammad SAW, haji yang mabrur tidak hanya dinilai dari ibadah selama di Tanah Suci, tetapi juga terlihat dari perubahan sikap saat kembali ke masyarakat.
Nabi Muhammad SAW pernah ditanya oleh para sahabat tentang apa itu haji mabrur. Beliau menjawab bahwa haji mabrur adalah memberi makan dan menebarkan kedamaian. Dalam riwayat hadis lain yang sahih, beliau juga menyebutkan bahwa haji mabrur adalah memberi makan dan berbicara dengan santun.
Secara khusus, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyatakan,
والْحَجُّ الْمَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلاَّ الْجَنَّةُ
“Haji yang mabrur tidak lain pahalanya adalah surga.” (HR. al-Bukhari (1683) dan Muslim (1349))
Berdasarkan penjelasan tersebut, terdapat tiga ciri-ciri haji mabrur yang bisa dilihat dari seorang Jamaah Haji, yaitu:
1. Berbicara dengan Santun (Thayyibul Kalam)
Jamaah Haji yang mabrur akan selalu menjaga lisannya. Kata-kata yang diucapkan selalu baik, sopan, dan diusahakan tidak pernah menyakiti perasaan orang lain.
2. Menebarkan Kedamaian (Ifsya’us Salam)
Kehadiran Jamaah Haji selalu membawa rasa aman dan rukun di lingkungannya. Jamaah Haji akan lebih suka menjalin tali silaturahmi dan menghindari permusuhan atau keributan dengan siapa pun.
3. Peduli kepada Sesama (Ith’amut Tha’am)
Jamaah Haji memiliki rasa peduli dan jiwa sosial yang tinggi kepada orang-orang di sekitarnya. Contoh paling nyatanya adalah kebiasaan berbagi makanan, rajin bersedekah, dan suka membantu orang yang sedang kesusahan atau kelaparan.
