Rendahnya nilai Tes Kemampuan Akademik (TKA), khususnya pada mata pelajaran matematika, merupakan indikator bahwa pola pembelajaran di sekolah masih terjebak pada metode hafalan dan latihan soal berulang (drilling). Akibatnya, peserta didik kesulitan menghadapi soal-soal yang menuntut kemampuan logika, analisis, dan penalaran tingkat tinggi.
Untuk memperbaiki kondisi ini, fokus pembelajaran harus segera digeser dari sekadar menghafal cara cepat menjadi proses yang mengajak siswa untuk berpikir kritis, berdiskusi, serta memahami konsep dasar secara mendalam sejak jenjang SD. TKA sendiri hanyalah alat ukur untuk memetakan kemampuan, bukan tujuan akhir yang harus dicapai dengan cara pintas.
Berikut adalah rangkuman mengenai tantangan dalam pembelajaran matematika dan pemaknaan hasil TKA:
- Kelemahan pada fondasi numerasi sejak jenjang SD.
- Dampak negatif metode pembelajaran yang terlalu fokus pada rumus.
- Pentingnya pergeseran metode menuju pemahaman konsep dan penalaran.
- TKA sebagai alat evaluasi proses, bukan sekadar nilai akhir.
Fondasi Numerasi yang Lemah
Masalah utama yang sering terjadi adalah fondasi numerasi yang tidak kuat sejak dini. Ketika dasar-dasar matematika di tingkat SD tidak dipahami dengan matang, dampaknya akan terus terbawa hingga ke jenjang yang lebih tinggi. Bukti nyata dari lemahnya fondasi ini adalah masih ditemukannya siswa SMA yang kesulitan melakukan operasi dasar matematika, bahkan masih mengandalkan hitungan jari.
Mengapa Metode “Drilling” Soal Tidak Cukup?
Banyak sekolah yang masih mengandalkan metode latihan soal berulang sebagai cara untuk meningkatkan nilai ujian. Menurut Moch. Fatkoer Rohman, Ketua Umum Organisasi Pendidikan Guru Matematika Nusantara, cara ini justru merugikan siswa karena:
- Siswa menjadi terbiasa menghafal “cara cepat” tanpa mengerti alasannya.
- Siswa tidak dilatih untuk berpikir logis dan analitis.
- Siswa akan merasa sangat kesulitan ketika bertemu soal yang membutuhkan penalaran, karena soal tersebut tidak bisa diselesaikan hanya dengan menghafal rumus.
TKA sebagai Alat Evaluasi, Bukan Tujuan
Perlu diingat bahwa TKA dirancang untuk mengukur sejauh mana kemampuan berpikir, logika, dan analisis siswa. Oleh karena itu, TKA seharusnya tidak direspons dengan memperbanyak intensitas drilling soal. Sebaliknya, hal yang harus dibenahi adalah proses pembelajarannya.
Siswa perlu diberikan ruang untuk:
- Berpikir: Diberikan masalah yang menantang nalar.
- Berdiskusi: Bertukar ide mengenai cara memecahkan masalah.
- Mencoba: Melakukan eksperimen atau eksplorasi matematika.
- Menemukan Konsep: Memahami “mengapa” sebuah rumus bekerja, bukan sekadar “bagaimana” menggunakannya.
Hal paling penting yang harus dipahami adalah kualitas proses pembelajaran jauh lebih menentukan daripada hasil akhir ujian. TKA hanyalah cermin atau alat ukur untuk melihat sejauh mana pemahaman siswa, sehingga perbaikan yang dilakukan harus menyasar pada penguatan logika dan pemahaman konsep mendalam sejak jenjang pendidikan dasar.
Jadikan nilai TKA sebagai bahan evaluasi untuk memperbaiki pola belajar, bukan beban yang harus dikejar dengan menghafal. Mari dukung proses belajar yang membangun kemampuan berpikir kritis agar siswa lebih siap menghadapi tantangan di jenjang pendidikan selanjutnya.
BACA JUGA: Cara Baca Hasil Nilai TKA 2026 untuk Peserta Didik
