add_action( 'wp_footer', 'delay_gtag_script' ); function delay_gtag_script() { ?>

Eks Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto Temukan Alat Pelacak PBX Finder di Mobilnya

Profil Tiyo Ardianto dan Jejak Aktivismenya Profil Tiyo Ardianto dan Jejak Aktivismenya

YOGYAKARTA — Mantan Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Gadjah Mada (BEM UGM), Tiyo Ardianto, diduga menjadi sasaran penguntitan oleh orang tidak dikenal. Dugaan ini muncul setelah Tiyo menemukan sebuah alat pelacak yang terpasang pada mobil yang sedang ia kendarai.

Peristiwa tersebut disadari Tiyo tidak lama setelah dirinya mengikuti aksi demonstrasi bersama elemen mahasiswa dan gerakan sipil di Gejayan, Yogyakarta, pada Sabtu (13/06). Alat pelacak jenis PBX Finder tersebut ditemukan menempel di bagian bawah kerangka mobil milik saudaranya yang ia pinjam untuk bepergian.

Tiyo mengaku mengetahui keberadaan alat tersebut setelah menerima pemberitahuan otomatis pada ponselnya yang mendeteksi adanya perangkat pelacak eksternal. Setelah dilakukan pengecekan langsung ke area kolong mobil, ia mendapati alat tersebut terpasang di sana.

Kronologi Penemuan Alat Pelacak

“Saya baru sadar ada notifikasi penting dan genting, yaitu sebuah alat pelacak yang bernama PBX Finder ditemukan bergerak bersama saya,” katanya dalam takarir unggahan di Instagram.

Tiyo menjelaskan bahwa dirinya meminjam mobil tersebut karena merasa situasi keamanannya kurang kondusif dalam beberapa waktu terakhir. Menindaklanjepan temuan tersebut, ia langsung berkoordinasi dengan kerabat dekatnya untuk menonaktifkan alat pelacak itu.

“Saya tidak tahu siapa yang pasang alat pelacak itu,” ucap mahasiswa S-1 Filsafat UGM ini. Atas saran dari orang-orang terdekatnya, alat pelacak yang ditemukan tersebut kemudian langsung direndam ke dalam air untuk mematikan sinyalnya.

Dugaan Intimidasi Aktivis Mahasiswa

Selain penemuan alat pelacak, Tiyo mengungkapkan bahwa rekan-rekannya di BEM UGM juga mengalami gangguan digital yang masif secara bersamaan. Gangguan tersebut berupa pengiriman pesan teks berantai dari nomor tidak dikenal yang menyasar puluhan pengurus BEM UGM sejak Sabtu (13/06).

“Belum didata berapa banyak, tapi ada kemungkinan 30-an,” katanya saat menjelaskan jumlah perkiraan rekan-rekannya yang mendapatkan pesan misterius tersebut.

Tiyo menilai tindakan penguntitan dan pengiriman pesan massal ini merupakan bentuk teror serta intimidasi yang terstruktur untuk membungkam sikap kritis mahasiswa. Menurutnya, kritik yang disampaikan oleh gerakan sipil didasari oleh kepedulian terhadap kondisi bangsa, namun justru direspons dengan ancaman keselamatan.

“Betapa berbahayanya menjadi manusia Indonesia yang mencintai bangsanya. Kita beri obat untuk penyakit-penyakitnya, tapi ia justru mencoba meracuni kita,” ujarnya.