JAKARTA — Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Pandjaitan bersama jajaran anggota DEN, termasuk Chatib Basri, Septian Hario Seto, dan Firman Hidayat, menemui Presiden Prabowo Subianto di Istana Merdeka pada Selasa (09/06). Pertemuan tersebut bertujuan untuk melaporkan hasil survei independen terkait program Makan Bergizi Gratis (MBG) serta perkembangan integrasi data nasional melalui Government Technology (GovTech).
“Saya kira penjelasan pertama adalah hasil survei yang dilakukan oleh Dewan Ekonomi mengenai pelaksanaan Makan Bergizi yang kita lakukan di 800 titik. Jadi betul-betul dengan profesional,” ucap Luhut dalam konferensi pers, Selasa (09/06).
Luhut menambahkan bahwa kredibilitas DEN sangat dijaga dalam penyusunan laporan tersebut. “Jadi kami di DEN menjaga betul kredibilitas kami dan itu kami laporkan ke Presiden, detail.”
Selain program MBG, Luhut juga memaparkan pencapaian program GovTech yang per 01/06 telah mengintegrasikan data dari delapan kementerian dan lembaga ke dalam satu sistem berbasis kecerdasan buatan (AI). Integrasi ini diyakini akan memperkuat pengawasan pajak dan meningkatkan rasio pajak nasional dari kisaran 9 persen saat ini menjadi 12 hingga 13 persen melalui digitalisasi UMKM.
“Kemudian juga tadi kami laporkan mengenai Government Technology, karena sudah 80 persen Government Technology, terkoneksi, dan pertama kali juga 8 kementerian/lembaga sepanjang republik ini merdeka, datanya menjadi satu, tanggal 1 Juni kemarin,” katanya.
“Jadi pada 1 Juni kemarin itu, ada peristiwa besar menurut kami, karena datanya menjadi satu berbasis AI, jadi semua data itu sekarang sudah terkoneksi, dan mulai dibersihkan oleh AI,” jelasnya.
“Jadi pemerintahan Presiden Prabowo ini nanti GovTech ini akan menjadi satu bagian yang paling penting. Kenapa? Karena semua data nanti akan terkumpul dengan baik dan kita tidak ada yang bisa lari dari situ.”
“Ini saya pikir penting karena nanti dengan GovTech masuk, maka UMKM yang 64 juta itu kita akan grab, supaya mereka itu juga ikut bagian 0,5 persen bayar pajak terlibat. Dan kalau itu terjadi, tax ratio kita akan naik dari 9 persenan sekarang mungkin ke 12 atau 13 persen,” jelas Luhut.
Pada kesempatan yang sama, Anggota DEN Chatib Basri turut menyampaikan poin krusial mengenai situasi ekonomi terkini. Pihaknya memberikan peringatan kepada Presiden mengenai potensi kenaikan harga barang yang dipicu oleh melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS), terutama dampaknya bagi masyarakat kelas menengah ke bawah.
“Kami juga menyampaikan bahwa salah satu isu penting yang harus diperhatikan itu adalah kemungkinan mengenai risiko kenaikan harga-harga yang bisa terjadi akibat dari pelemahan rupiah,” jelas Chatib.
“Karena ini tentu akan berdampak kepada kelompok menengah bawah. Dan apa yang harus dilakukan, termasuk juga untuk menumbuhkan masalah confidence, masalah trust kepada pemerintah,” tuturnya.
Sebagai langkah antisipasi, Chatib menekankan perlunya langkah efisiensi dalam anggaran belanja negara, termasuk pada pelaksanaan program MBG itu sendiri.
“Salah satunya adalah langkah-langkah yang dilakukan di dalam efisiensi anggaran termasuk salah satu di antaranya di dalam kaitan dengan MBG.”