add_action( 'wp_footer', 'delay_gtag_script' ); function delay_gtag_script() { ?>

BEM UGM Bertransformasi Menjadi Serikat Mahasiswa (SEMA UGM), Siapa Ketuanya?

BEM UGM Bertransformasi Menjadi Serikat Mahasiswa
BEM UGM Bertransformasi Menjadi Serikat Mahasiswa

Bertepatan dengan Hari Lahir Pancasila, BEM UGM resmi transformasi menjadi Serikat Mahasiswa UGM. Deklarasi perubahan kelembagaan ini digelar di Bundaran Boulevard UGM pada Senin, 1 Juni. Langkah besar ini menandai lahirnya arah baru dalam gerakan mahasiswa. Model baru ini dinilai lebih adaptif, inklusif, dan responsif terhadap tantangan zaman saat ini. Perubahan ini membawa harapan baru bagi demokrasi internal kampus.

Ketua BEM UGM alias Serikat Mahasiswa (SEMA) UGM sekarang, Sheron Adam Funay, menegaskan langkah ini diambil bukan sekadar untuk berganti nama ilmiah. Ini adalah orientasi baru untuk mengobati penyakit perpecahan di internal gerakan mahasiswa.

Elitisme kelompok juga menjadi target yang ingin disembuhkan lewat wadah baru ini. Gerakan harus kembali ke akar rumput.

Alasan BEM UGM Mengubah Struktur Menjadi Serikat Mahasiswa UGM

Hubungan antarlembaga kini dibuat setara demi menyatukan gerakan mahasiswa secara utuh. Sheron Adam Funay memaparkan visi baru organisasi ini secara terbuka. “Kami percaya dari Serikat Mahasiswa UGM, fragmentasi gerakan dan elitisme itu bisa diobati. SEMA bukan badan eksekutif yang hierarkis, melainkan organisasi setara fakultas dengan tujuan menyatukan gerakan mahasiswa,” ujarnya.

Satu perubahan paling mendasar dari transformasi ini adalah penghapusan sistem Pemilihan Umum Mahasiswa atau Pemilwa. Sistem kontestasi politik terbuka tersebut dinilai membawa dampak buruk bagi iklim akademis karena rentan terjebak popularitas dan kekuasaan.

“Akibatnya, dapat mengaburkan tujuan utama gerakan mahasiswa yang sebenarnya,” katanya. Hal ini sering mengaburkan esensi pergerakan. Agenda utama mahasiswa menjadi tidak fokus.

SEMA UGM Menerapkan Sistem Pemilihan Berbasis Meritokrasi

Sebagai gantinya, organisasi kini mengutamakan kompetensi nyata dari setiap anggota. Mahasiswa Hubungan Internasional ini menjelaskan bahwa mereka akan menerapkan sistem pemilihan berbasis meritokrasi. Sistem ini mengedepankan kualitas kerja nyata. Posisi penting diberikan berdasarkan kemampuan individu.

Pengisian jabatan utama tidak lagi didasarkan pada kemenangan politik semata. SEMA UGM ingin mengapresiasi kerja keras dan kapasitas kepemimpinan nyata yang teruji secara objektif di lingkungan kampus.

Selain merombak sistem pemilihan, perubahan ini juga mengubah klaim representasi kelembagaan ke luar. Selama ini, badan eksekutif sering diklaim mewakili seluruh mahasiswa secara sepihak. Padahal, realitas di lapangan menunjukkan dinamika yang berbeda. Mahasiswa memiliki pandangan yang sangat beragam.

Perubahan Model Representasi dan Dukungan Mantan Ketua BEM

Sikap rendah hati ditunjukkan lewat penataan ulang klaim perwakilan ini. SEMA UGM memposisikan diri sebagai organisasi yang mewakili anggotanya saja. Mereka tidak ingin lagi berbicara egois atas nama seluruh mahasiswa universitas.

“BEM selama ini sering diposisikan sebagai representasi seluruh mahasiswa UGM. SEMA berbeda karena menempatkan diri sebagai organisasi yang mewakili anggota tanpa mengklaim berbicara atas nama seluruh mahasiswa,” ujar Sheron.

Langkah berani ini mendapat dukungan penuh dari internal terdahulu. Ketua BEM UGM periode 2025, Tiyo Ardianto, turut hadir memberikan restu di lokasi deklarasi.

Tiyo memandang perubahan ini sebagai momentum penting. Ini adalah waktu tepat mengaktifkan kembali mesin penggerak demokrasi kampus. Kondisi sosial-politik nasional kini semakin rumit.

Pentingnya Partisipasi Aktif Mahasiswa di Tengah Tantangan Zaman

Model perwakilan total yang lama dinilai sudah tidak relevan lagi. Mahasiswa saat ini cenderung bersikap tidak peduli terhadap gerakan formal kampus. “Hari ini, yang kita butuhkan sebenarnya bukan lagi representasi formal, melainkan partisipasi aktif. Hal itulah yang sedang diusahakan oleh Serikat Mahasiswa. Jadi betapapun dia berbasis kader atau anggota, bukan berarti dia tidak peduli terhadap sesama,” tegas Tiyo.

Situasi terkini menuntut kita semua untuk merumuskan pola gerakan baru. Kita tidak bisa lagi bergantung pada elitisme kelompok yang kaku. Perubahan zaman berjalan sangat cepat.

“Kita harus hargai apa yang dilakukan Sheron dan kawan-kawan sebagai upaya merespons zaman. Sekarang saatnya lah gerakan mahasiswa perlu bertransformasi,” jelasnya di akhir pernyataan.