Menjelang akhir Ramadan, pertanyaan mengenai kapan NU Lebaran 2026 mulai ramai diperbincangkan. Sebagai organisasi Islam terbesar di Indonesia, Nahdlatul Ulama (NU) memiliki kriteria khusus dalam menentukan awal bulan Syawal yang sering kali menjadi acuan bagi jutaan umat Muslim.
Kapan NU Lebaran 2026?
Berdasarkan data perhitungan Lembaga Falakiyah Nahdlatul Ulama (LFNU), Hari Raya Idul Fitri atau Lebaran 2026 versi NU diprediksi jatuh pada Sabtu, 21 Maret 2026.
Hal ini dikarenakan posisi hilal pada Kamis, 19 Maret 2026 (29 Ramadan) diprediksi belum memenuhi kriteria MABIMS/IRNU (tinggi 3° dan elongasi 6,4°). Jika hilal tidak terlihat, maka Ramadan akan digenapkan menjadi 30 hari (istikmal), sehingga warga NU kemungkinan besar merayakan Idul Fitri sehari lebih lambat dibanding metode hisab tertentu.
Analisis Data Hilal LFNU
Sekretaris LFNU Jakarta, Ikhwanudin, mengungkapkan bahwa hasil perhitungan teknis di seluruh Indonesia menunjukkan posisi hilal yang masih cukup rendah. Berikut adalah rincian datanya:
- Tinggi Hilal: 0,9° hingga 3,1°
- Sudut Elongasi: 4,5° hingga 6,1°
Angka tersebut menunjukkan bahwa posisi bulan belum mencapai standar minimal kriteria imkanurrukyat yang disepakati (MABIMS). “Karena tinggi dan elongasinya belum seutuhnya terpenuhi, potensi Idul Fitri jatuh pada Sabtu, 21 Maret 2026,” jelas Ikhwanudin.
Mekanisme Istikmal dan Sidang Isbat
Sesuai dengan amanah Muktamar NU ke-34, jika hasil rukyatul hilal di lapangan tidak berhasil melihat bulan karena posisi yang rendah atau faktor cuaca, maka bulan Ramadan akan digenapkan menjadi 30 hari.
Pemerintah sendiri tetap akan menggelar Sidang Isbat pada Kamis, 19 Maret 2026. Sidang ini akan menjadi penentu final apakah laporan dari berbagai titik pemantauan di Indonesia ada yang berhasil melihat hilal atau tidak.
Tunggu Pengumuman Resmi (Ikhbar) PBNU
Meskipun secara data astronomis sudah terlihat hilalnya cenderung rendah, umat Muslim diharapkan tetap tenang dan menunggu hasil resmi. Kepastian mengenai kapan NU Lebaran 2026 akan disampaikan secara formal melalui Ikhbar PBNU setelah menerima laporan rukyatul hilal dari berbagai daerah.
| Pihak Penetap | Prediksi / Tanggal Lebaran | Metode yang Digunakan | Status Keputusan |
| Muhammadiyah | Jumat, 20 Maret 2026 | Hisab Hakiki Wujudul Hilal (KHGT) | Selesai (Maklumat) |
| Nahdlatul Ulama (NU) | Sabtu, 21 Maret 2026 | Rukyatul Hilal & Imkanurrukyat (MABIMS) | Prediksi (Menunggu Ikhbar) |
| Pemerintah (Kemenag) | Menunggu Sidang Isbat | Hisab & Rukyatul Hilal (MABIMS) | Menunggu Sidang Isbat (19 Maret) |
Potensi Perbedaan
Tabel di atas menunjukkan adanya potensi perbedaan hari raya. Muhammadiyah kemungkinan besar merayakan lebih dulu pada hari Jumat, sementara NU berpotensi menggenapkan Ramadan menjadi 30 hari (istikmal) dan merayakan pada hari Sabtu.
Kriteria MABIMS
Pemerintah dan NU kini menggunakan kriteria baru (minimal tinggi hilal 3 derajat dan elongasi 6,4 derajat), yang menjadi alasan mengapa prediksi kapan NU lebaran 2026 cenderung jatuh pada tanggal 21 Maret.