Kabar Antariksa – Kenapa astronot setelah pulang ke bumi kaku untuk berjalan disebabkan oleh adaptasi tubuh terhadap kondisi mikrogravitasi yang menghilangkan beban pada otot dan tulang. Hal ini memicu atrofi otot, penurunan kepadatan tulang, serta gangguan sistem vestibular di telinga bagian dalam, sehingga otak kesulitan mengatur keseimbangan saat kembali merasakan gravitasi.
Proses transisi dari lingkungan tanpa bobot menuju tarikan gravitasi Bumi memerlukan penyesuaian sistem saraf dan motorik yang cukup kompleks.
Faktor Utama Penyebab Kekakuan Fisik Astronot
1. Penurunan Massa Otot dan Kepadatan Tulang
Selama berada di stasiun luar angkasa, tubuh tidak perlu melawan gravitasi untuk bergerak atau berdiri. Akibatnya, otot-otot penopang tubuh, terutama pada bagian kaki dan punggung bawah, mengalami penyusutan atau atrofi karena jarang digunakan.
Selain itu, tulang kehilangan mineral penting sekitar 1% hingga 1,5% setiap bulannya karena tidak menahan beban berat, sehingga struktur rangka menjadi lebih lemah dan rapuh saat kembali ke Bumi.
2. Gangguan Sistem Keseimbangan Vestibular
Telinga bagian dalam memiliki sistem vestibular yang berfungsi mengatur keseimbangan dan orientasi ruang. Di luar angkasa, sistem ini tidak menerima sinyal gravitasi yang konsisten, sehingga otak terbiasa mengabaikan sensor posisi tegak lurus.
Saat mendarat, otak mengalami kebingungan dalam memproses sinyal gravitasi kembali, yang memicu rasa pusing, mual, dan langkah kaki yang tidak stabil atau kaku.
3. Perubahan Distribusi Cairan Tubuh
Tanpa tarikan gravitasi ke bawah, cairan tubuh seperti darah cenderung naik dan berkumpul di bagian dada serta kepala. Begitu astronot kembali ke Bumi, gravitasi secara mendadak menarik cairan tersebut kembali ke arah kaki.
Hal ini sering menyebabkan penurunan tekanan darah secara tiba-tiba atau intoleransi ortostatik, yang membuat fisik terasa sangat lemas dan sulit untuk mempertahankan posisi berdiri tegak.