Umat Muslim di Indonesia mulai memasuki periode bulan Safar 1448 Hijriah. Salah satu ibadah puasa sunnah yang menjadi perhatian luas adalah pelaksanaan puasa Ayyamul Bidh. Bagi umat yang ingin menunaikan ibadah ini, memahami jadwal puasa Ayyamul Bidh Juli 2026 menjadi hal yang mendasar agar pelaksanaannya sesuai dengan kalender Hijriah yang berlaku.
Terdapat perbedaan penetapan awal bulan Safar 1448 H antara pemerintah dan organisasi keagamaan di Indonesia. Oleh karena itu, masyarakat perlu mencermati ketetapan waktu agar dapat menentukan kapan harus memulai ibadah sunnah tersebut.
Puasa ini sendiri memiliki keutamaan besar, di mana Rasulullah SAW menganjurkan umatnya untuk melaksanakannya pada tanggal 13, 14, dan 15 setiap bulan Hijriah.
Contents
Dasar Hukum dan Keutamaan Ibadah
Puasa Ayyamul Bidh dikenal sebagai puasa hari putih, merujuk pada terang bulan di pertengahan bulan Hijriah. Berdasarkan riwayat dari Ibnu Milhan Al Qoisiy, dari ayahnya, dijelaskan mengenai anjuran melaksanakan puasa ini.
“Rasulullah SAW biasa memerintahkan pada kami untuk berpuasa pada ayyamul bidh yaitu 13, 14 dan 15 (dari bulan Hijriah).” Dan beliau bersabda, “Puasa ayyamul bidh itu seperti puasa setahun.” (HR Abu Daud nomor 2449 dan An Nasai nomor 2434. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).
Hadits tersebut menjadi landasan utama mengapa banyak umat Islam berupaya menjaga konsistensi dalam melaksanakan ibadah ini. Selain sebagai bentuk ketaatan, puasa ini juga dipandang sebagai cara menjaga kesehatan spiritual dan fisik secara rutin setiap bulan.
Perbedaan Jadwal Pelaksanaan
Penetapan awal bulan Safar 1448 H yang tidak serentak menyebabkan jadwal pelaksanaan ibadah sunnah ini memiliki variasi. Pemerintah dan Nahdlatul Ulama (NU) memiliki ketetapan yang berbeda dengan Muhammadiyah terkait awal bulan.
Berikut adalah rincian jadwal pelaksanaan berdasarkan ketetapan masing-masing otoritas keagamaan:
1. Jadwal Pemerintah dan Nahdlatul Ulama (NU)
Berdasarkan Kalender Hijriah Indonesia Tahun 2026 terbitan Kemenag RI dan Kalender Almanak terbitan Lembaga Falakiyah PCNU, jadwalnya adalah:
- 13 Safar 1448 H: 28 Juli 2026 M
- 14 Safar 1448 H: 29 Juli 2026 M
- 15 Safar 1448 H: 30 Juli 2026 M
2. Jadwal Muhammadiyah
Berdasarkan Kalender Hijriah Global Tunggal yang disusun oleh Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah, jadwalnya adalah:
- 13 Safar 1448 H: 27 Juli 2026 M
- 14 Safar 1448 H: 28 Juli 2026 M
- 15 Safar 1448 H: 29 Juli 2026 M
Perbedaan ini adalah hal yang lumrah dalam metode penentuan kalender Hijriah di Indonesia. Umat Islam dapat mengikuti ketetapan yang diyakini atau merujuk pada kalender yang digunakan di lingkungan masing-masing.
Niat Puasa Ayyamul Bidh
Sebelum memulai ibadah puasa, umat Muslim dianjurkan untuk membaca niat. Niat merupakan aspek fundamental dalam setiap ibadah guna memastikan keikhlasan dan tujuan pelaksanaan.
Berikut adalah bacaan niat puasa Ayyamul Bidh:
نَوَيْتُ صَوْمَ يوم الْبِيْضُ سُنَّةً لِلَّهِ تَعَالَى
“Saya niat berpuasa sunnah yaumul bidh (hari putih) karena Allah Ta’ala.”
Niat ini dapat dilafalkan dalam hati saat malam hari sebelum fajar atau ketika bangun sahur. Tidak ada ketentuan khusus mengenai pelafalan niat yang harus diucapkan dengan suara keras, karena yang terpenting adalah kemantapan hati untuk berpuasa karena Allah SWT.
Ketentuan dan Fleksibilitas Pelaksanaan
Muncul pertanyaan di kalangan masyarakat mengenai apakah puasa ini harus dilaksanakan selama tiga hari penuh secara berturut-turut. Syaikh Ibn Baz memberikan pandangan dalam Kitab Fatawa Ibn Baz 370/15 bahwa puasa Ayyamul Bidh tetap sah dikerjakan meski tidak genap tiga hari.
Namun, ia menegaskan bahwa lebih baik melaksanakan puasa Ayyamul Bidh secara utuh selama tiga hari. Hal ini agar muslim yang mengerjakannya dapat memperoleh amalan yang lebih afdal dan sempurna.
Selain itu, tidak ada ketentuan yang mewajibkan puasa ini dilakukan secara berurutan. Apabila seseorang memiliki halangan syar’i, ia tetap bisa melanjutkan puasa pada hari lain dalam bulan Hijriah yang sama.
Hal ini diperkuat dengan hadits riwayat Muslim dan At-Tirmizi dari Mu’adzah RA yang bertanya kepada ‘Aisyah RA:
“Apakah Rasulullah berpuasa tiga hari setiap bulan?” ‘Aisyah menjawab, “Iya.” Mu’adzah bertanya lagi, “Pada hari apa beliau berpuasa?” ‘Aisyah menjawab, “Beliau tidak peduli pada hari apa beliau berpuasa.”
Perbedaan Waktu Berdasarkan Majelis Tarjih
Muhammad Ichsan dari Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah memberikan penjelasan mengenai beberapa alternatif waktu bagi umat yang memiliki keterbatasan waktu. Terdapat setidaknya enam varian waktu yang bisa dipilih dalam melaksanakan puasa tiga hari setiap bulan:
- Berpuasa berturut-turut pada tanggal 13, 14 dan 15 bulan Qamariah.
- Berpuasa tiga hari pada hari Senin pekan pertama kemudian pada hari Kamis, lalu hari Senin pekan berikutnya.
- Berpuasa tiga hari pada hari Senin pertama awal bulan dan dua hari Kamis.
- Berpuasa tiga hari pada hari Senin dan Kamis (di pekan pertama) dan satu hari apa saja.
- Berpuasa tiga hari di awal bulan yaitu tanggal 1, 2, dan 3.
- Berpuasa tiga hari dengan tidak ditentukan harinya apakah di awal, di tengah atau di akhir, berturut-turut atau tidak.
Meskipun terdapat berbagai opsi, mengerjakan puasa pada tanggal 13, 14, dan 15 bulan Hijriah tetap menjadi pilihan yang paling utama. Anjuran ini didasarkan pada kebiasaan yang sering dilakukan oleh Rasulullah SAW.
Namun, bagi umat yang tidak memungkinkan melaksanakannya pada tanggal tersebut karena kesibukan atau hal lain, tetap bisa memilih hari lain. Selama dikerjakan dengan niat yang ikhlas dan dalam bulan Hijriah yang sama, ibadah tersebut tetap sah dan bernilai pahala.
Pelaksanaan ibadah sunnah ini merupakan momen untuk meningkatkan kualitas diri dan kedekatan dengan Sang Pencipta. Dengan menyimak jadwal yang telah ditetapkan, diharapkan seluruh umat Muslim dapat mempersiapkan diri dengan baik.
Baik bagi yang mengikuti ketetapan pemerintah maupun Muhammadiyah, esensi dari ibadah ini tetap terjaga selama dilakukan dengan penuh kesungguhan. Semoga ibadah puasa Ayyamul Bidh pada bulan Juli 2026 ini membawa keberkahan dan kebaikan bagi seluruh umat.