add_action( 'wp_footer', 'delay_gtag_script' ); function delay_gtag_script() { ?>

Lafal Niat Puasa Muharram, Tasua, dan Asyura Arab-Latin

Lafal Niat Puasa Muharram, Tasua, dan Asyura
Lafal Niat Puasa Muharram, Tasua, dan Asyura

Anjuran ibadah sunnah ini memiliki tata cara serta keutamaan tersendiri bagi umat Muslim yang melaksanakannya. “Hukum puasa Muharram adalah sunnah, bahkan lebih utama dari puasa bulan Sya’ban yang paling sering dipuasai oleh Nabi Muhammad saw,” tulis Ustadz Ahmad Muntaha pada Senin (15/06).

Ibadah ini menitikberatkan pada pembacaan niat yang dapat dilafalkan secara lisan maupun dalam hati. Umat Muslim perlu memperhatikan perbedaan lafal niat yang disesuaikan dengan hari pelaksanaan puasa tersebut. Pembacaan niat secara umum ditujukan untuk puasa mutlak selama bulan Muharram, di luar hari kesembilan dan kesepuluh yang memiliki ketetapan khusus tersendiri.

Niat Puasa Muharram

نَوَيْتُ صَوْمَ الْمُحَرَّمِ لِلّٰهِ تَعَالَى

Latin: Nawaitu shaumal Muharrami lilâhi ta’âlâ.

Artinya: “Saya niat puasa Muharram karena Allah ta’âlâ.”

Selain puasa umum, terdapat hari-hari khusus yang memiliki keutamaan lebih besar di bulan ini. Hari-hari khusus tersebut jatuh pada tanggal sembilan dan sepuluh Muharram dengan pelafalan niat yang berbeda.

Hari kesembilan bulan Muharram dikenal luas oleh masyarakat Muslim dengan sebutan hari Tasu’a. Untuk menjalankan ibadah pada hari tersebut, umat Islam disunnahkan membaca lafal niat khusus yang telah ditentukan.

Niat khusus ini membedakan jenis puasa yang sedang dijalankan dengan puasa sunnah Muharram biasa. Pembacaan lafal yang tepat menjadi bagian penting dalam menyempurnakan ibadah puasa Tasu’a ini.

Umat Islam dapat melafalkan niat ini secara jelas pada waktu yang telah ditetapkan oleh syariat. Berikut adalah bacaan lengkap niat puasa Tasu’a untuk mempermudah umat dalam mengamalkannya.

Niat Puasa Tasu’a

نَوَيْتُ صَوْمَ تَاسُوعَاءَ لِلّٰهِ تَعَالَى

Latin: Nawaitu shauma Tâsû’â-a lilâhi ta’âlâ.

Artinya: “Saya niat puasa Tasu’a karena Allah ta’âlâ.”

Selanjutnya, hari kesepuluh bulan Muharram dinamakan sebagai hari Asyura yang juga memiliki kedudukan sangat mulia. Sama seperti hari Tasu’a, puasa pada hari Asyura ini memiliki bacaan niat tersendiri yang lengkap.

Pelafalan niat ini menjadi tanda dimulainya ibadah puasa khusus pada hari ke-10 di bulan Muharram. Keberadaan niat khusus ini menunjukkan kekhususan hari Asyura dibandingkan dengan hari-hari lainnya.

Umat Muslim dianjurkan menghafal atau membaca lafal ini demi kelancaran ibadah yang akan dijalankan esok hari. Di bawah ini merupakan teks lengkap bacaan niat untuk puasa sunnah Asyura tersebut, di mana penyusunan lafal ini mengikuti standar fikih Islam demi menjaga keabsahan puasa yang dikerjakan oleh setiap individu.

Niat Puasa Asyura

نَوَيْتُ صَوْمَ عَاشُورَاءَ لِلّٰهِ تَعَالَى

Latin: Nawaitu shauma Âsyûrâ-a lilâhi ta’âlâ.

Artinya: “Saya niat puasa Asyura karena Allah ta’âlâ.”

Waktu pelaksanaan pembacaan seluruh niat puasa ini dapat dilakukan pada malam hari saat esoknya berpuasa. Secara rinci, rentang waktu pembacaan niat dimulai selepas Maghrib hingga menjelang fajar tiba.

Bagi umat Islam yang belum sempat berniat pada malam hari, syariat masih memberikan keringanan khusus. Mereka masih diperbolehkan berpuasa dengan membaca niat yang sama sampai waktu Dzuhur tiba di hari tersebut.

Kelonggaran pembacaan niat pada siang hari ini memiliki kriteria tertentu yang wajib dipenuhi oleh orang tersebut. Aturan ini hanya berlaku dengan syarat selepas fajar sampai membaca niat, orang itu belum melakukan pembatal puasa.

Pembatal puasa meliputi aktivitas makan, minum, atau hal lain yang menggugurkan ibadah tersebut secara sah. Ketentuan ini penting dipahami agar puasa tetap sah.

Keutamaan Puasa Muharram

Ibadah puasa di bulan Muharram ini setidaknya menyimpan lima fadilah besar yang bisa diperoleh umat Islam. Penjelasan mengenai ragam keutamaan tersebut dirangkum berdasarkan hadits-hadits Rasulullah saw yang shahih.

Berikut adalah tata urutan keutamaan atau fadilah melaksanakan ibadah puasa di bulan Muharram:

  • Puasa Muharram merupakan puasa yang paling utama setelah puasa Ramadhan.
  • Termasuk dalam keutamaan berpuasa dalam bulan-bulan mulia atau al-asyhurul hurum, selain Rajab, Dzulqa’dah, dan Dzulhijjah.
  • Puasa sehari dalam bulan Muharrram pahalanya sama dengan puasa 30 hari.
  • Khusus puasa Asyura pada 10 Muharram akan menjadi pelebur dosa setahun yang telah lewat.
  • Jika dilengkapi puasa Tasu’a dan tanggal 11, menjadi pembeda umat Islam dengan umat Yahudi.

Setiap poin keutamaan memberikan motivasi lebih bagi umat Muslim untuk meningkatkan amalan ibadah mereka.