AI Bisa Mendeteksi Skizofrenia dan Gangguan Bipolar Lebih Dini

Skizofrenia dan gangguan bipolar merupakan penyakit mental serius yang sering muncul pada awal masa dewasa.
Meskipun ada pengobatan yang efektif, mendapatkan diagnosis yang tepat dapat memakan waktu bertahun-tahun.
Diagnosis yang tertunda membuat pengobatan menjadi lebih sulit dan memperburuk kondisi pasien.
Namun, penelitian baru dari Universitas Aarhus dan Rumah Sakit Universitas Aarhus—Psikiatri menunjukkan bahwa kecerdasan buatan (AI) dapat membantu mempercepat proses ini.
Studi mereka, yang diterbitkan dalam JAMA Psychiatry, menunjukkan bahwa model pembelajaran mesin dapat memprediksi siapa yang mungkin mengembangkan skizofrenia atau gangguan bipolar di masa mendatang.
Para peneliti menganalisis catatan kesehatan elektronik dari 24.449 pasien yang telah dirawat karena kondisi kesehatan mental yang lebih ringan, seperti kecemasan dan depresi.
Mereka mengembangkan algoritma pembelajaran mesin untuk memperkirakan apakah pasien ini berisiko tinggi didiagnosis dengan skizofrenia atau gangguan bipolar dalam lima tahun ke depan.
Jika algoritme memprediksi risiko tinggi, dokter dapat lebih memperhatikan gejala yang terkait dengan gangguan ini.
Hal ini dapat mengarah pada diagnosis lebih awal dan perawatan yang lebih tepat waktu, yang dapat meningkatkan hasil bagi pasien.
AI menganalisis lebih dari 1.000 faktor berbeda dari catatan medis, termasuk diagnosis sebelumnya, pengobatan, dan teks dari catatan dokter. Hasilnya menunjukkan:
- Di antara 100 pasien yang diberi label berisiko tinggi, sekitar 13 benar-benar mengembangkan skizofrenia atau gangguan bipolar dalam waktu lima tahun.
- Di antara 100 pasien yang diberi label berisiko rendah, 95 tidak mengembangkan salah satu gangguan dalam waktu lima tahun.
Meskipun hasil ini menjanjikan, namun belum cukup akurat untuk penggunaan klinis di dunia nyata.
Para peneliti percaya bahwa meningkatkan cara AI menafsirkan catatan dokter akan membuat prediksi lebih tepat.
Kunci Prediksi yang Lebih Baik: Catatan Dokter
Ketika peneliti mengamati faktor apa yang paling berkontribusi terhadap prediksi AI, mereka menemukan bahwa catatan klinis—yang ditulis oleh dokter selama kunjungan pasien—adalah yang paling penting.
Kata-kata dan frasa tertentu yang terkait dengan gejala seperti penarikan diri dari kehidupan sosial, mendengar suara-suara (halusinasi pendengaran), dan masuk rumah sakit jiwa merupakan indikator kuat diagnosis di masa mendatang.
Namun, model AI saat ini hanya menghitung seberapa sering kata-kata tertentu muncul.
Model ini tidak sepenuhnya memahami makna kalimat atau konteks penggunaan kata-kata tersebut.
Model AI yang lebih canggih, mirip dengan yang mendukung ChatGPT, dapat meningkatkan hal ini dengan menganalisis makna lengkap dari catatan dokter, bukan hanya kata-kata individual.
Peneliti optimistis bahwa model AI yang lebih canggih akan meningkatkan akurasi prediksi skizofrenia dan gangguan bipolar.
Dengan teknologi yang lebih baik, AI dapat menjadi alat yang berharga bagi dokter, membantu mereka mengidentifikasi pasien berisiko tinggi lebih awal dan memberikan perawatan lebih cepat.
Studi ini merupakan langkah awal yang penting dalam penggunaan AI untuk kesehatan mental, tetapi diperlukan peningkatan lebih lanjut sebelum dapat digunakan di rumah sakit dan klinik.
Jika berhasil, AI dapat mengubah cara mendiagnosis gangguan mental berat, sehingga menghasilkan perawatan yang lebih cepat dan lebih efektif bagi pasien di seluruh dunia.