Ilmuwan Temukan Penyebab Baru Infeksi Diare yang Berbahaya

Peneliti di Universitas La Trobe telah membuat terobosan besar dalam memahami bagaimana jenis bakteri E. coli yang berbahaya menyebabkan infeksi usus yang parah.
Penemuan ini dapat menghasilkan perawatan yang lebih baik dan lebih terarah untuk penyakit diare, yang memengaruhi jutaan orang di seluruh dunia, terutama anak-anak kecil.
Penelitian yang dipublikasikan di Gut Microbes ini mengungkap untuk pertama kalinya struktur 3D terperinci dari racun kuat yang digunakan oleh E. coli enteropatogenik (EPEC).
Racun ini, yang disebut EspC, bertindak seperti "gunting molekuler" untuk memotong dan menghancurkan sel-sel yang melapisi usus.
Kerusakan ini menyebabkan diare, yang dalam kasus yang parah dapat mengakibatkan dehidrasi yang mengancam jiwa, terutama pada anak-anak di bawah usia lima tahun.
Dr. Akila Pilapitiya, yang mengerjakan penelitian ini sebagai bagian dari gelar Ph.D.-nya, mengatakan tim menggunakan berbagai metode ilmiah untuk mengungkap cara kerja EspC.
Meskipun para ilmuwan telah mengetahui bahwa EPEC menggunakan EspC sebagai racun, mereka tidak memahami bagaimana racun tersebut benar-benar merusak usus.
Dengan mempelajari bentuk dan struktur EspC, Dr. Pilapitiya dan rekan-rekannya menunjukkan bagaimana setiap bagian racun berperan dalam merusak sel.
Pengetahuan ini sangat penting karena membantu para ilmuwan mulai merancang obat yang dapat memblokir racun tersebut tanpa membahayakan bakteri baik dalam tubuh.
Profesor Begoña Heras, yang ikut memimpin penelitian tersebut, mengatakan penemuan ini sangat penting karena resistensi antibiotik terus meningkat.
Banyak strain E. coli, termasuk EPEC, menjadi lebih sulit diobati dengan antibiotik saat ini.
Itu merupakan masalah serius, karena penyakit diare masih membunuh sekitar 1,3 juta anak di bawah lima tahun setiap tahun di seluruh dunia.
Perawatan saat ini biasanya bergantung pada antibiotik spektrum luas, yang membunuh bakteri baik dan jahat di usus.
Hal ini dapat mengganggu keseimbangan bakteri dalam tubuh kita dan memperburuk keadaan dalam jangka panjang.
Selain itu, E. coli dan bakteri lainnya beradaptasi dengan cepat, sering kali menjadi resistan bahkan terhadap antibiotik terkuat yang tersedia.
Dr. Jason Paxman, peneliti utama lainnya, mengatakan dokter sudah berjuang untuk mengobati infeksi karena banyak bakteri tidak lagi merespons antibiotik tradisional.
Bahkan ketika obat baru dikembangkan, obat tersebut digunakan dengan hati-hati untuk mencegah resistensi—tetapi bakteri sering kali berevolusi lebih cepat daripada pengobatan yang dapat mengimbanginya.
Penemuan ini menawarkan harapan baru. Dengan memahami struktur EspC yang tepat, para ilmuwan selangkah lebih dekat untuk menciptakan obat-obatan yang dapat menghentikan EPEC—tanpa memusnahkan semua bakteri baik atau berkontribusi terhadap resistensi antibiotik.
Ini adalah kemajuan yang menjanjikan dalam perang melawan penyakit diare yang mematikan.